ANALISIS : Grameen Bank

Oleh : Prof Mudrajad Kuncoro PhD

USAI membuka Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 di Bali, Presiden SBY bertemu dengan Prof Muhammad Yunus (MY), penerima Nobel Perdamaian 2006 asal Bangladesh. Intinya, membicarakan tentang langkah-langkah teknis dan kegiatan-kegiatan nyata untuk mengurangi kemiskinan, terutamanya melalui pemberian kredit mikro.
Asia-Pacific Regional Microcredit Summit ini diikuti sekitar 700 delegasi dari 60 negara di Asia Pasifik dan dunia. Para delegasi mewakili pengusaha mikro, institusi keuangan mikro, bank dan aktivis keuangan mikro. Tema utama dari pertemuan ini adalah meraih orang-orang miskin, meraih dan memberdayakan perempuan, membangun institusi keuangan yang mandiri, dan memastikan positif efek dalam kehidupan para keluarga miskin dan keluarganya.
Saya teringat kembali dengan buku karya MY (1997) berjudul Banker to the Poor: Micro-Lending and the Battle Againts World Poverty. Buku ini secara rinci menceritakan bagaimana MY memulai Grameen Bank dari sebuah proyek percontohan tahun 1976 di desa Jebra dekat kampus Chittagong University, di mana MY mengajar. Penduduk miskin Jebra inilah yang mengilhami MY tentang bagaimana pemberian kredit ke kaum papa bukanlah suatu yang mustahil, bahkan mampu berperan memotong lingkaran setan kemiskinan.
Teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) karya Ragnar Nurkse mengajarkan bahwa adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan, dan seterusnya seperti lingkaran yang tidak berujung. Fenomena kemiskinan struktural dan kultural semacam ini menggambarkan bagaimana kaum miskin tetap miskin karena dia miskin, dan demikian terus berlaku secara turun-temurun tanpa menemukan jalan keluar.
Si miskin juga tetap makin terjerat dalam ‘kubangan kemiskinan’ karena mereka mendapatkan pinjaman uang dari pelepas uang (lintah darat), mindring, atau perantara, yang menagih cicilan dan bunga tinggi.
Buku MY menceritakan secara lugas bagaimana ‘metodologi’ dan ‘cara kerja’ Grameen Bank mampu membantu si miskin dengan ‘kredit mikro’. Intinya adalah bagaimana memberdayakan si miskin dengan usaha mandiri, self-employment, dan percaya bahwa si miskin selalu dapat membayar kembali pinjamannya. Kendati kredit mikro bukan obat ajaib untuk melenyapkan kemiskinan, namun kekuatan kredit mikro dapat membantu kaum dhuafa untuk memulai usaha sendiri atau memperluas usaha bisnisnya. Ciri utama Grameen Bank: pertama, menggunakan prinsip tanpa surat perjanjian (paperless). Kedua, kepercayaan adalah hal utama dan dalam pelaksanaannya tidak ada pemberlakuan sanksi. Ketiga, Grameen Bank bertujuan untuk membuat sistem perbankan yang adil, prorakyat miskin dan properempuan.
Metode yang digunakan Grameen Bank ini berupa group lending, group sanction atau collateral. Berbeda dengan sistem dan prinsip bank konvensional, cara kerja Grameen Bank melalui pemberian kredit kepada orang miskin, yang sebagian besar tidak berpenghasilan tetap. Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan bukan kontrak legal. Konkretnya, peminjam diminta membuat kelompok yang terdiri dari lima orang dengan satu pemimpin. Pinjaman diberikan secara berurutan dengan catatan orang kedua baru bisa meminjam setelah pinjaman orang pertama dikembalikan. Pembayaran pinjaman yang dilakukan Grameen Bank diberikan kepada suatu kelompok miskin dan pembayarannya juga melalui kelompok itu. Jika terdapat nasabah yang tidak mampu membayar, maka teman dalam satu kelompoknya harus membantu supaya orang tersebut mampu membayar. Selain itu, kelompok peminjam dituntut membuat pelbagai agenda sosial yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.Ada kombinasi antara modal uang dan modal sosial. Dengan menerapkan modal sosial ini, pengembalian utang kepada Grameen Bank bisa mencapai 99%.
Demi keberlanjutan antargenerasi, Grameen Bank memfokuskan pinjaman pada perempuan. Ada dua misi dari aksi ini: Pertama, pemberdayaan perempuan dengan meningkatkan posisi tawar mereka, baik di ruang privat maupun publik. Kedua, peningkatan kualitas hidup anak. Riset membuktikan, peningkatan ekonomi perempuan berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan kesehatan anak. Pemberdayaan ekonomi perempuan berhubungan langsung dengan turunnya angka kematian bayi dan malnutrisi.
Grameen Bank di Bangladesh memiliki 1.181 cabang, bekerja di 42.127 desa, didukung 11.777 staf, menyalurkan kredit sebanyak $3,9 miliar kepada 2,6 juta debitur yang 95% perempuan. Model Grameen Bank direplikasi oleh lebih 250 lembaga keuangan mikro di hampir 100 negara.
Prinsip Grameen Bank patut ditimbang sebagai satu alternatif metodologis dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Pemberian kompensasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) diibaratkan sebagai ‘obat flu’ tapi digunakan untuk mengobati sakit kanker. Nampaknya, pemerintah belum banyak ‘belajar’ dari desain dan implementasi BLT pasca kenaikan harga BBM Oktober 2005. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya persentase penduduk miskin Indonesia yang meningkat dari 16% tahun 2005 menjadi 17,8% tahun 2006. Program ini ibaratnya bukan merupakan obat yang bisa menyembuhkan orang miskin dari kemiskinan, tetapi hanya sekedar perpanjangan nafas saja. BLT juga mendidik orang Indonesia menjadi malas bekerja. Karena mereka hanya menadahkan tangan saja mengharapkan dana BLT ini. Program ini juga cenderung membentuk pola perilaku konsumtif masyarakat, bukan produktif, karena langsung habis dibelanjakan ataupun untuk membayar utang. BLT pun jadi Bantuan Langsung Telas.
Alternatifnya, dana BLT yang mencapai triliunan rupiah tersebut sebaiknya digunakan untuk dana bantuan modal bagi usaha mikro, baik dalam bentuk dana bergulir, kredit tanpa agunan dan tanpa bunga, maupun hibah. Karena usaha mikro inilah yang menjadi andalan bagi penduduk miskin untuk bertahan hidup. Menurut Sensus Ekonomi tahun 2006, usaha mikro mencapai 83,3% dari total 22,7 juta usaha, yang menyerap tenaga kerja kurang lebih sebesar 62,5% dari 49,7 juta orang.
Pemerintah bukannya tidak menyadari hal ini. Departemen Pertanian kini tengah menggodok konsep pembiayaan mikro ala Grameen Bank. Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, akan menggerakkan desa miskin dengan bantuan modal bergulir Rp 100 juta. Penggunanya kelompok-kelompok tani. Dengan cara ini, diharapkan akan berkembang lembaga-lembaga keuangan mikro seperti BMT atau koperasi tani. Kepada peminjam tidak dibebankan sistem bunga. Hanya diminta kesadaran untuk berinfak setelah usahanya jalan. Jadi ada semacam bagi untung. Deptan telah mengusulkan anggaran Rp 1 triliun kepada DPR dan sudah disetujui. Dengan kata lain akan ada 10.000 desa dari seluruh desa yang akan menerima bantuan modal tersebut.
Hakikat BLT pada dasarnya give a man a fish, and he may just eat: berikan si miskin seekor ikan dan ia hanya dapat makan. Sedang hakikat Grameen Bank adalah teach him to catch fish, and he may feed himself: ajari bagaimana si miskin menangkap ikan dan ia dapat menghidupi dirinya sendiri. Semoga saja laut yang banyak ikannya masih ada dan tidak terkena tsunami atau gempa. (Penulis adalah Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Pimpinan redaksi Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia)-a
Sumber : Kedaulatan Rakyat Online

× Chat WA Langsung Klik