ANALISIS : Grameen Bank
March 7, 2017
PEMP Teramputasi Birokrasi Keuangan
March 7, 2017

Animo Masyarakat Pesisir Rendah, 22 Lembaga Keuangan Mikro Bubar

Hingga 2008, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang merupakan basis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) sudah terbentuk di 250 kabupaten pesisir di Indonesia. Dari jumlah itu, 22 di antaranya bubar karena kultur masyarakat dan rendahnya animo masyarakat terhadap program pemerintah. Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Departemen Kelautan dan Perikanan menargetkan, tahun ini seluruh kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir tersentuh program LKM.
”Sampai sekarang masih ada sekitar 50 kabupaten yang belum tersentuh LKM. Rencananya program ini akan terus kami lanjutkan,” kata Zaki Mahasin dari Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Pesisir kepada KR di sela pelatihan peningkatan SDM LKM Swamitra Mina Kabupaten Bantul di Hotel Matahari, Sabtu (26/7).
Pelatihan yang diikuti 15 pengurus dan pengelola LKM Swamitra Mina ini ditujukan untuk menjaga keberlanjutan LKM yang sudah berdiri sejak 2004 lalu. ”Kita nantinya akan menerapkan program sertifikasi bagi pengurus. Kita ujikan melalui lembaga sertifikasi profesi yang ada di Jakarta. Ujian ini hanya diselenggarakan di Jakarta dan Yogya,” jelasnya. Mereka yang bersertifikat nantinya diharapkan mampu mengakses dana dari perbankan, sehingga LKM bisa go public baik domestik maupun internasional.
Dikemukakan, untuk memberdayakan masyarakat pesisir pemerintah memberikan dana hibah yang dikelola oleh LKM. Dana ini dikelola koperasi untuk dipinjamkan pada masyarakat. ”Tapi kalau kita beri secara cuma-cuma terus, target pemerintah dalam mendidik masyarakat agar mereka bisa mengakses dana perbankan tidak tercapai. Untuk itu perlu ada pelatihan,” ungkapnya.
Sementara Diyan R Wahyudi SE MSi dari CV Karya Mandiri Sejahtera (KMS) selaku konsultan program PEMP mengatakan, pelatihan ini diperlukan agar keberadaan LKM di Bantul dapat terus berlanjut. ”LKM yang berbentuk koperasi ini bisa dikatakan sebagai bank milik masyarakat pesisir. Kami tidak ingin setelah proyek dari pemerintah selesai, tidak ada yang mengurusi dana ini,” jelasnya. Sejak 2004, total dana yang dikelola LKM Swamitra Mina sebesar Rp 2,9 miliar.
Manajer LKM Swamitra Mina Partana menambahkan, hingga sekarang jumlah anggota LKM mencapai 598 orang. Mereka adalah masyarakat pesisir baik nelayan, pedagang ikan dan lain-lain. Besarnya pinjaman berkisar antara Rp 1 juta – Rp 50 juta. Dana pinjaman bergulir ini digunakan untuk mensuport usaha masyarakat pesisir.
Namun demikian, dalam pelaksanaannya tak lepas dari kendala. Partana menyebutkan, angka kredit macet sekarang ini sekitar 2,4 persen. Hal ini dikarenakan pasca gempa, banyak pelaku usaha kecil di wilayah pesisir yang terpuruk. Sampai sekarang, dampak gempa ini masih terasa. Ada beberapa pelaku usaha yang kondisinya belum stabil. Sebagai solusi, pengurus juga melakukan pendampingan terhadap pelaku usaha kecil yang mengalami kesulitan. Sedang angka kredit macet dana LKM secara nasional, Zaki menyebutkan, mencapai 25 persen. ”Memang angka ini harus diturunkan,” ujarnya. (R-4)-z
Sumber : KR Online tanggal 28 Juli 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *